Rabu, 05 Agustus 2015

Pendapat Sosiolog mengenai Prostitusi Online

 Mungkin bagi kalian sudah banyak yang tahu mengenai fenomena sosial yang belakangan ini melibatkan artis-artis terkenal di Indonesia yakni Prostitusi Online, sudah berbagai nama artis yang entah benar tidaknya dituding melakukan bisnis kotor tersebut.

Dalam Sosiologi ada 3 alasan mengapa seseorang rela mengorbankan harga dirinya untuk terjun ke dunia kotor tersebut, yaitu kebutuhan hidup, ambisi untuk hidup berlebih, serta pengaruh buruk dari luar. 



 Seorang Sosiolog bernama Musni Umar pun angkat suara mengenai fenomena ini, ia menduga artis terjun ke dunia prostitusi, bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi cenderung kepada tuntutan gaya hidup hedonisme di kota megapolitan.

"Artis AA(salah satu dari sekian Artis) itu motifnya melakukan prostitusi bukan prostitution by need (prostitusi karena kebutuhan). Tapi prostution by greedy (prostitusi karena serakah), atau prostitution by lifestyle (prostitusi karena gaya hidup) karena hedonistik," ujar Musni kepada Liputan6.com, Senin 11 Mei 2015.

Musni menilai, pendapatan di dunia keartisannya dapat dikategorikan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang. Namun sifat manusia terkadang serakah, sehingga merasa selalu kekurangan. Apalagi dunia hiburan sangat memprioritaskan penampilan fisik seseorang.

"AA sudah menjadi artis, lalu dia memilih bekerja lagi sebagai PSK. Kemungkinan (dia) merasa penghasilannya tidak cukup untuk menunjang impiannya hidup mewah dan sosialitas," kata Musni.

  Tak hanya itu, Musni juga mengatakan terungkapnya praktik prostitusi dengan menyebutkan harga jual para pekerja seks, dapat berdampak buruk bagi masyarakat.

Kalangan yang tak berpendidikan tinggi dan tak memiliki pekerjaan, kata Musni, akan melihat dunia prostitusi sebagai jalan mendapatkan banyak uang dengan cara mudah. Apalagi, belum ada undang-undang yang mengatur tentang pemberian sanksi bagi para pekerja seks.

"Ini berbahaya, karena ketika (pemberitaan prostitusi) ini terbuka dan orang-orang jadi berbondong-bondong tertarik untuk jadi pelacur. Karena bayarannya besar dan tidak ada risiko jerat hukum. Akhirnya orang yang tidak punya pekerjaan, tidak ada pendidikan, memilih jadi pelacur," ujar dia.

Menurut Musni, masyarakat cenderung suka meniru saat melihat seseorang berhasil mendapatkan uang banyak dengan cara prostitusi. Sehingga masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan luas dan keterampilan akan mencoba hal yang sama.

"Orang Indonesia justru meniru untuk menjadi kaya nggak perlu bekerja keras. Apalagi orang yang susah hidupnya. Dampak sosialnya akan diikuti anak remaja," kata dia.

 Setelah melihat artikel diatas, alangkah baiknya kita prihatin sejenak dengan krisis moral yang melanda negeri kita yang bahkan hingga kalangan Artis. Artis yang seharusnya menjadi figur publik ternyata hanya menjadi manusia bertopeng manis didepan layar tanpa memperlihatkan wajah aslinya. Semoga kedepanya kita tidak akan melihat kasus yang mencoreng banyak nama seperti ini lagi, Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar